Wednesday, June 25, 2008

Dear, eve...!!! 4

kamu datang
dan duduk disampingku
kamu pegang tanganku
dan katakan kamu pelindungku
tapi itu semua hanya gurauan bagimu

sedikit terlambat
dan tidak ingin lebih terlambat
pergi dan temukan orang lain
aku akan membiarkanmu pergi
aku masih menyayangi diriku sendiri
jika hanya untuk kau jadikan hiburan

hanya sedikit kesalahan
dan aku tidak ingin merasa bersalah
karena aku tidak bisa menunggu
kamu pernah bilang
jika aku memberikan hatiku
kamu tidak akan menyakitiku
yah...kamu tidak menyakitiku dari depan
tapi seperti menusukku dari belakang
sebenarnya, itu bukanlah apa-apa bagiku
karena kamu hanya orang lain

aku bisa mencintaimu dengan seluruh hatiku
sayang, dengan orang yang suka
memainkan hati seperti dirimu
aku tidak punya pengharapan sama sekali
kamu harus tahu
karena itu memang jalan untuk hidup

Dear, eve...!!! 3

aku ingin belajar mencintaimu
walaupun aku tidak tahu cara
bagaimana harus mencintaimu
tapi aku tetap mencoba

perlahan, ada perasaan lain
yang ingin kusampaikan padamu
aku ingin jadi bagian hidupmu
tapi apakah itu mungkin

kadang ada perasaan bimbang
yang menyelinap
tentang sikap yang kau tunjukkan
itukah yang ada dalam hatimu

aku hanya mencoba
untuk menunjukkan sayangku padamu
tapi kamu seperti tidak pernah
menganggap keberadaanku
aku benar-benar tidak tahu
apa yang harus aku lakukan

aku tetap ingin belajar mencintaimu
walaupun aku belum tahu cara
bagaimana harus mencintaimu
dan aku tetap mencoba
sampai datang jalan
dimana aku harus berhenti

Cairo, 2008

Sunday, June 22, 2008

Dear, eve...!!! 2

seperti orang lain
ketika aku masih kecil
aku pernah bermimpi
bercita-cita untuk
jadi orang besar

seperti orang lain
ketika aku dewasa
aku ingin mewujudkan
cita-cita yang pernah kuimpikan
ketika aku kecil

seperti yang lain
ketika aku lebih dewasa
aku mulai bersikap
terhadap hal yang kucitakan
untuk menjadikannya nyata

seperti yang lain
aku mulai mengalami ujian
kekerasan dunia mulai menyadarkanku
bahwa tidak mudah menjadi orang besar
aku mulai tahu apa itu arti berjiwa besar
dan semua itu membuatku lebih dewasa lagi

Dear, eve...!!! 1

jalanku pasti ada
jika aku mau mencari
keajaiban itu pasti datang
jika aku tidak berputus asa

mencoba suatu hal
tidak untuk sekali dua kali
tapi harus dengan kesabaran
yang aku pertahankan

kegagalan bukanlah suatu akhir
dari apa yang pernah ku alami
aku masih terus mencoba dan mencoba
mencari situasi yang kuinginkan
demi kebahagiaan dan ketentraman hati

akan sulit kuraih keinginanku
tanpa ada dukungan dan perhatian
dari orang-orang yang kusayang
dari orang-orang yang mau mengakui
keberadaanku dan talenta yang kumiliki

Wednesday, June 18, 2008

Refreshing, ouy...



ESHA

Comme si je n'existais pas

Elle est passee a cote de moi,

Sans un regard, reine de Saba

J'ai dit: Esha, prends tout est pour toi

Voici, les perles , les bijoux

Aussi l'or autour de ton cou

Les fruits bien murs au gout de miel

Ma vie, Esha, si tu m'aimes

J'irai ou ton souffle nous mene,

dans les pays d'ivoire et d'ebene

J'effacerai tes larmes, tes peines

rien n'est trop beau pour une si belle

Esha, esha, ecoute moi

Esha, esha, t'en vas pas

Esha, esha, regarde moi

Esha, esha, reponds moi

Je dirai les mots, les poemes

je jouerai les musiques du ciel

Je prendrai les rayons du soleil

pour eclairer tes yeux de reve

Elle a dit garde tous tes tresors

Moi, je vaus mieux que tout ca

Des barreaux sont des barreaux memes en or

Je veux les memes droits que toi

Du respect pour chaque jour

Moi, je ne veux que de l'amour

Comme si je n'existais pas

Elle est passee a cote de moi

Sans un regard, reine de Saba

J'ai dit: Esha, prends tout est pour toi


yang dah dimuat di kumcer ''Dialektika Bisu'' (LSBNU)

SALAM TEMPEL

Nafisah Fattah

"Pak Kus…untuk masalah halal bihalal tahun ini, masyarakat meminta anda untuk menangani, bagaimana menurut anda pak Kus?, kasihan kalau harus pak Yono lagi. Dia sudah tua, pasti capek untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Tolong ya pak Kus" kata pak Mun, RT di Dusun Damai ini, secara tiba-tiba saat berkunjung ke rumahku.

"Ah pak Mun, apa tidak salah dengar. Saya kan tidak tahu apa-apa. Jangan-jangan kalau acara besar seperti halal bihalal ini diserahkan pada saya, malah tidak semenarik acara tahun-tahun sebelumnya, atau bisa-bisa gagal"

"tidak ada petir, apalagi hujan", kataku masih tergagap. Kaget atas permintaan pak RT, tapi juga ada sedikit rasa bangga karena bisa dipercayai untuk mengurus hal besar seperti itu.

"Sudahlah pak Kus, belum maju dan mencoba kok pesimis, lagian pak Kus kan tidak sendirian, banyak remaja-remaja masjid dusun yang membantu. Saya yakin pak Kus pasti bisa. Ini amanah dari masyarakat lho pak !" potong pak Mun. Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala saja saat pak Mun bicara, tidak berani membantah ataupun menolak. Walaupun aku tidak seberapa paham maksudnya kismis, eh pemisis. Ah entahlah istilah apa itu, maklumlah sekolah saja tidak lulus. Hehe…

"Insyaallah pak, akan saya usahakan"

"Begitu dong pak Kus…jangan menyerah sebelum mencoba ya…" sambil tangannya menepuk-nepuk bahuku yang sudah sedikit nyeri dari kemarin. Maklumlah petani, apalagi kerjaan tetapnya, selain mencangkul dan mencangkul.

"Iya pak" tukasku antara gamang dan ketidak pastianku

"Oh ya pak Kus, ini uang 5 juta untuk anggaran acara halal bihalalnya, mohon diperhitungkan ya pak Kus…"

"Insyaallah pak, saya tahu" pak Mun memberiku amplop berisi uang hasil iuran masyarakat untuk acara nanti.

"Oh ya pak Kus, untuk acara halal bihalal tahun ini, rencananya kita akan mengundang seorang ustadz Alim, saya sudah mengirim surat permohonan sekaligus menghubungi beliau lewat telpon untuk mengisi salah satu daftar acara nanti. Dan beliau menyetujui untuk datang pada acara dusun kita. Satu lagi pak Kus…untuk menarik perhatian penduduk dalam acara nanti, itu tergantung kerja sama antara pak Kus dan para remaja masjid. Terima kasih ya pak Kus atas partisipasinya" sambungnya. Aku hanya bisa menganga, tanpa bisa mengeluarkan kata-kata walaupun hanya satu kalimat. Sambil berusaha menyusun kepercayaan diriku sendiri, aku hanya bisa mengangguk. Mataku nanar menatap amplop berisi uang yang baru saja diberikan pak Rt padaku.

***

Halal bihalal tahun ini sepertinya merupakan acara halal bihalal yang paling ramai dari tahun-tahun kemarin, karena rencana pak RT dusun ini akan mengundang da’i kondang yang namanya tidak asing lagi di kalangan orang-orang besar, apalagi dikalangan kita-kita sebagai rakyat dusun kecil ini. Namanya selalu menghiasi media-media cetak manapun, baik yang kecil ataupun yang besar. Tak jarang pula wajahnya menghiasi channel-channel televisi saat ada acara-acara besar keagamaan. Kata-katanya yang menyejukkan bagi siapapun yang mendengarnya, apalagi bagi orang awam semacam aku.

Aku adalah orang dusun yang nggak punya jabatan apa-apa di Dusun Damai, tempat aku lahir dan dibesarkan sampai saat ini. Jangankan jabatan, sekolah saja aku hanya tamat SD. Mau bagaimana lagi, biaya sekolah sangat mahal, apalagi orang tuaku tidak meninggalkan warisan apa-apa ketika meninggal dunia, kecuali rumah yang ku tempati sekarang. Namaku Kusrin, orang Dusun biasa memanggilku pak Kus. Dan saat ini umurku kurang lebih empat puluh satu-empat puluh dua-an gitulah, pastinya aku kurang tahu. Maklumlah, bagi orang desa seperti aku, tidak ada waktu untuk memikirkan umur sendiri. Yang penting hidup, itu saja sudah cukup!!!. Eh…kok malah menceritakan tentang aku, kembali ke dai kondang tadi. Walaupun beliau tergolong muda, kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu bisa menyeret hati siapa saja untuk mendengarnya.

"Ah…benar-benar da’i kondang pujaan banyak manusia. Da’i muda yang kehadirannya selalu dinanti-nantikan banyak umat", gumamku pada diri sendiri

***

Halal bihalal yang ditunggu-tunggu telah dimulai, semarak halal bihalal yang kental dengan nuansa islam kembali digaung-gaungkan. Tanpa disangka-sangka banyak yang hadir pada acara ini, bukan hanya penduduk dusun ini, tapi dari dusun sebelahpun rela datang walau hanya dengan berdiri. Yang penting bagi mereka, bisa menatap wajah da'i yang tidak asing lagi namanya secara langsung, sudah cukup bagi mereka.

Aku sebagai seorang yang dipercaya menangani acara ini oleh pak RT, merasa bahagia sekali, karena bisa membuat halal bihalal tahun ini ramai, kebersamaan antara dusun Damai dengan dusun sebelah terjalin. Berkat kehadiran ustadz Alim juga tentunya.

Hingga di penghujung acara, satu persatu penduduk pulang karena capek. Ustadz Alim juga mohon pamit. Aku maklum, jadwal safari dakwahnya pasti padat. Selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, saat bersalaman, tidak lupa aku menyelipkan amplop, yang mungkin isinya tidak ada apa-apanya bagi beliau. Tapi setidaknya uang amanat masyarakat dusun ini, tulus kita berikan.

***

"Kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan, pengabdian, dan kejujuran. Ilmu mampu menembus yang samar dan menemukan sesuatu yang hilang serta menyikap sesuatu yang tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia adalah keinginan untuk mengetahui hal-hal yang baru dan mengungkap sesuatu yang menarik. Pengabdian dalam memberikan yang terbaik harus didasari dengan bekal
pemahaman dasar nilai-nilai kehidupan manusiawi yang hakiki. Seseorang yang sombong dengan harta dan kedudukannya, kehidupannya tidak akan sempurna. Hal-hal yang disombongkan tersebut hanya akan berguna untuk
memenuhi kepentingan diri sendiri serta mudah membuka jalan untuk melakukan korupsi. Letakkanlah kehidupan ini sesuai porsi dan tempatnya karena kehidupan adalah laksana permainan yang harus diwaspadai." Sebagaian kata-kata yang diucapkan oleh ustad Alim, tatanan kalimat yang bagus dengan inti yang memukau. Tapi itu sudah setahun yang lalu. Saat beliau diundang pertama kali untuk mengisi acara halal bihalal di dusun ini.

Saat ini, aku hanya bisa prihatin tanpa bisa berbuat apa-apa, menatap kursi-kursi kosong di bawah tenda, seperti tanpa ada kehidupan. Mereka, para penduduk dusun lebih memilih menyaksikan santapan rohani da'i pujaan mereka walaupun hanya lewat channel salah satu televisi, dari pada menghadiri acara rutin halal bihalal dusun Damai. Kalaupun ada yang datang, itu cuma sebentar, hanya sebagai syarat karena merasa tidak enak dengan ibu Fatmawati, istri pak Mun. Setelahnya, pulang dengan berbagai alasan demi menyaksikan seorang ustadz Alim yang berceloteh.

Hujan malam ini menambah suasana muram dusun Damai. Rintik-rintiknya menciprati panggung yang seharusnya ditempati ustadz Alim untuk berpidato. Dan hanya digantikan seorang da'i kampung yang tidak begitu menarik minat penduduk sini.

Aku hanya orang dusun yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa yang terdetik di hatinya saat itu, ketika aku menghubunginya untuk mengisi acara halal bihalal lagi, dan beliau menyetujuinya karena memang kebetulan tidak ada jadwal. Tapi aku lebih tidak tahu lagi apa isi hatinya, saat memutuskan untuk tidak bisa hadir di Dusun Damai ini, karena ada jadwal safari da'wah yang tidak bisa ditinggalkannya, tepat dua hari sebelum hari H acara halal bihalal di dusun Damai.

"Kenapa? Apa karena acara halal bihalal yang akan dihadirinya lebih heboh. Apa karena selain acaranya disiarkan langsung oleh salah satu channel televisi. Amplopnya juga sepuluh kali lipat lebih tebal". Aku hanya orang dusun yang tidak tahu apa-apa.

Aku hanya orang dusun, lebih tidak mengerti lagi dengan salah satu ucapannya waktu itu bahwa Seorang pimpinan yang bijak dan cerdas adalah orang yang mampu mengubah kerugian menjadi keuntungan. Masalah-masalah yang telah berlalu jangan diungkit lagi, karena hanya akan menimbulkan kesedihan, kegoncangan, dan terbuangnya waktu dengan percuma. Arahkanlah pandangan ke depan dan pertanyakan kepada diri sendiri, sudahkah ada yang akan didarmabhaktikan bagi bangsa dan negara ?.

Setidaknya walaupun aku bodoh, tapi aku masih punya ingatan. Sekali lagi, aku hanya orang dusun yang tidak tahu apa-apa maksud dari ucapannya.

Ramadhan in Cairo, 28 September 06

tulisan untuk majalah Sinar Muhammadiyah(Kairo)

THE CRISIS OF RELIGIONS HISTORY

Nafisah Fattah

Sebelum saya menjelaskan sejarah tentang keberadaan agama itu sendiri, saya ingin menjelaskan apa definisi kata din (agama) itu sendiri.

Secara leksikal, kata din berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan balasan. Sedangkan secara teknikal, din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata al-ladini (orang yang tak beragama) di-gunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini shudfah (kejadian yang tak bersebab-akibat) di alam ini, atau meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi antar-materi semata. Adapun kata al-mutadayyin (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun kepercayaan, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kesahihannya.

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa istilah din atau agama terdiri dari dua unsur pokok: pertama, akidah atau aqa’id (keyakinan-keyakinan) yang merupakan prinsip agama. Kedua, hukum-hukum praktis yang merupakan konsekuensi logis dari prinsip agama tersebut.

Oleh karena itu, tepat sekali apabila bagian akidah ini dinamakan sebagai ushul (prinsip) agama, dan bagian ahkam (hukum-hukum) praktis dinamakan sebagai furu’ (cabang), sebagaimana para ulama Islam menggunakan dua istilah tersebut pada bidang akidah dan hukum-hukum Islam.

Pandangan Dunia dan Ideologi

Pandangan dunia (Ar-Ru’yah Al-Kauniyyah) dan ideologi adalah dua istilah yang berdekatan artinya. Salah satu arti pandangan dunia ialah seperangkat keyakinan mengenai penciptaan, alam semesta dan manusia, bahkan mengenai wujud secara mutlak.Sedangkan arti ideologi, salah satunya ialah seperangkat pandangan universal tentang sikap praktis manusia. Berdasarkan dua arti ini, sistem akidah setiap agama dapat dianggap sebagai sebuah pandangan yang bersifat universal. Sedang sistem hukum praktis agama yang bersifat umum adalah ideologinya. Maka itu, kedua istilah ini dapat diterapkan pada ushuluddin dan furu’uddin.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa istilah ideologi itu tidak meliputi hukum-hukum juz’i (partikular), begitu pula istilah padangan dunia itu tidak meliputi keyakinan-keyakinan yang juz'i. Hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa istilah ideologi terkadang digunakan untuk pengertian yang bahkan mencakup pandangan dunia itu sendiri.

Pandangan Dunia Ilahi dan Materialisme

Pada umat manusia, terdapat berbagai pandangan dan keyakinan mengenai penciptaan alam semesta ini. Akan tetapi, semua itu dari sisi keimanan atau pengingkaran terhadap alam metafisis– dapat dibagi menjadi dua bagian utama; pandangan dunia Ilahi dan, pandangan dunia Materialisme.

Dahulu, penganut pandangan dunia materialisme dikenal sebagai ath-thabi’i dan ad-dahri. Terkadang juga disebut sebagai zindik dan mulhid (ateis). Sedangkan di zaman kita sekarang ini, mereka dikenal sebagai al-maddi (materialis). Di dalam kaum materialis sendiri, terdapat aliran-aliran. Yang paling menonjol pada masa kita sekarang ini adalah Materialisme Dialektika yang merupakan bagian Filsafat Marxisme.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa istilah pandangan dunia tidak terbatas hanya pada kepercayaan agama saja, namun mempunyai pengertian yang lebih luas lagi, karena istilah itu juga digunakan pada pandangan ilhadiyyah (ateisme) dan madiyyah (materialisme), sebagaimana istilah ideologi itu tidak hanya digunakan untuk sistem hukum suatu agama.

Agama-agama manusia

"Semua agama yang ada saat ini, entah disadari atau tidak oleh penganutnya, sudah memasuki suatu proses krisis yang berlangsung terus dan mendasar," demikian kata Hendrik Kraemer, seorang tokoh terkemuka dalam gereja Protestan. Konstatasi bahwa agama-agama menghadapi situasi krisis tidak hanya disampaikan oleh Kraemer sendiri. Ada banyak orang yang berpendapat seperti itu. Dr. Malachi Martin misalnya, yang dulunya seorang pastos Yesuit dan guru besar pada Pontifical Biblical Institute, Roma, setelah melakukan studi selama bertahun-tahun terhadap tiga agama serumpun yang berasal dari Kemah Ibrahim; Yahudi, Kristen dan Islam, juga sampai pada kesimpulan seperti itu; agama-agama sedang menghadapi krisis. Hasil kajiannya itu dikemukakan dalam bukunya The Encounter yang di beri judul "Religions in Crisis".

Agama yang hidup menghadapkan individu yang bersangkutan dengan pilihan yang paling menentukan yang dapat diajukan oleh dunia ini. Agama yang hidup memanggil jiwa bertualang jauh melambung tinggi, suatu perjalanan yang ditawarkan, melintasi hutan belantara, puncak gunung dan padang pasir kerohanian manusia. Panggilannya ini adalah untuk menghadapi kenyataan, dan untuk mengendalikan diri sendiri. Mereka yang berani mendengar dan mengikuti panggilan rahasia ini segera akan mempelajari bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran dari perjalan yang sunyi itu.

Agama yang otentik merupakan pintu gerbang yang paling jelas. Melalui pintu gerbang itulah kekuatan kosmos yang tidak terhingga tercurah ke dalam eksistensi manusia. George Bernard Shaw berkesimpulan bahwa agama adalah satu-satunya kekuatan penggerak yang sesungguhnya di dunia ini. Agama bukanlah merupakan fakta dalam arti historis. Agama merupakan sebuah makna.

Telaah agama

Banyak agama yang tersebar pada saat ini, seperti agama Hindu, Buddha, Khong Hu Cu, Taoisme, Islam, Yahudi, dan Kristen.

Setidaknya kita tahu tentang fakta apapun mengenai warisan agama manusia, seperti makna yoga bagi orang Hindu, uraian Buddha tentang penyebab penyimpangan hidup, cita-cita hidup Konfusius tentang orang baik, seperti yang terwujud dalam pribadi Lao Tse, Lima rukun Islam, apa makna Eksodus bagi Yahudi, hakikat kabar gembira bagi orang Kristendi zaman awalnya, dan seterusnya. Suatu hal yang tidak dapat diremehkan. Tetapi apakah hanya itu?

Kita mungkin telah dapat merasakan bagaimana pentingnya peranan agama dalam kehidupan manusia. Hal itu malah mungkin menimbulkan kekecewaan tersendiri karena betapa sering perwujudan agama gagal. Dan kita mungkin telah merasakan betapa pentingnya mutu kehidupan beragama itu bagi kebudayaan itu sendiri.

Tidak ada salahnya kita mengambil sikap baru terhadap agama lain yang bukan agama kita anut sendiri. Tetapi, bukan dalam arti kita bahwa kita menyetujui semua agama tersebut. Karena dalam menelaah kehidupan semua agama manusia tersebut, tidak ada hal yang mengharuskan garis batas keyakinan kita masing-masing.

Saat ini yang harus kita pertanyakan adalah; bagaimana keserasian semua agama itu dengan yang lainnya? Dan bagaimana pula hubungan satu dengan yang lainnya?. Dalam perbandingan agama dewasa ini , nilai suatu jawaban lah yang membuat kokohnya jawaban tersebut. Yang pertama adalah bahwa di antara semua agama yang dianut manusia itu, ada suatu agama yang sedemikian tinggi mutunya, sehingga menganggap agama yang lainnya tidak bermutu dan lebih parah lagi menyebutnya dengan agama kekerasan atau agama teroris. Da n jawaban yang kedua adalah bukankah masing-masing agama itu mengandung bentuk tertentu dari hukum utama, hukum cinta, akan sesama manusia, dan bukankah semua agama itu berangapan bahwa sikap mementingkan diri sendiri merupakan sumber kesulitan hidup manusia dan berusaha untuk membantu manusia itu untuk mengatasi kesulitan tersebut dan aturan-aturan lainnya. Tetapi masih saja banyak dari mereka yang menganut suatu agama memerangi mereka yang berlainan agama.

Maka, setiiap hari dunia seakan semakin menjadi kecil, yang menyebabkan bahwa hanya saling pengertianlah yang dapat memungkinkan terwujudnya kedamaian. Tetapi kita seakan tidak siap menghadapi semakin kecilnya arti jarak ini. Saat ini, siapakah yang benar-benar siap menerima kenyataan yang agung bahwa bangsa-bangsa di dunia ini sama derajatnya. Kita terkadang tidak sadar menganggap segala yang berbau asing itu sebagai suatu hal yang lebih rendah. Padahal saat ini kita hidup pada abad raksasa, yang mana kemampuan abad ini jika dikembangkan sepenuhnya, maka kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai juga harus diimbangi dengan kemajuan yang setaraf dalam hubungan kemanusiaan.

Mereka yang mau mendengarkan orang lain dalam dunia sekarang ini, akan lebih berfikir tentang perdamaian, bukan perdamaian yang dilandaskan pada kekuasaaan keagamaan ataupun kekuasaan politik, tetapi yang didasarkan pada pengertian dan saling keterlibatan dalam kehidupan orang lain. Karena dengan pengertian itu, setidaknya akan menumbuhkan suatu penghormatan, dan penghormatan itu sendiri akan merintis jalan ke arah kekuatan yang lebih tinggi, yaitu cinta, yang dapat memadamkan api ketakutan, kecurigaan, dan prasangka. Dengan begitu tidak lagi akan menimbulkan peperangan agama yang saat ini banyak terjadi.

Setiap agama merupakan suatu paduan dari prinsip-prinsip universal dan perwujudan lokal, yang mana hanya penganutnya yang paham terhadap apa yang diyakininya.